...semoga semua pihak yang terlibat dengan tulisan ini medampat pahala dari Allah, penulis maupun yg membaca Nya...Insya Allah...amin....

Kamis, 29 September 2016

Surah An- Nashr (QS 110)


Islam memiliki keistimewaan mengaitkan antara dunia dan akhirat, antara Allah Ta’ala dan hamba, antara kemenangan, kemuliaan dan penaklukan, kembali kepada Allah Ta’ala sebelum dan sesudahnya agar manusia tidak dibiarkan berjalan bersama hawa nafsu dan syahwat, serta senantiasa berkepribadian lurus, tidak sombong, tidak terpedaya dan berbuat keji. Inilah yang kita temukan secara jelas melalui tuntunan dan perintah Allah Ta’ala untuk nabi-Nya setelah meraih berbagai kemenangan [penaklukan] yang diberikan, seperti penaklukan Mekah dan lainnya, perintah untuk bertasbih, bertahmid dan beristighfar dalam surah an-Nashr surah Madaniyyah secara ijma’.
Ibnu Abbas r.a ditanya tentang petunjuk surah ini, ia menjawab, “Ini adalah ajal Rasulullah Saw. Allah Ta’ala memberitahukan bahwa ajal beliau telah dekat bila telah melihat semua hal itu.” Selang berapa lama Umar r.a. berkata, “Yang aku tahu persis seperti yang kau sampaikan.” (HR. Sa’id bin Manshur, Ibnu Sa’ad, Al-Bukhari dan lainnya dari Ibnu Abbas r.a).
Penjelasan yang disampaikan Ibnu Abbas tentang penafsiran surah ini sama seperti yang disebutkan Ibnu Mas’ud dan murid-muridnya, Qatadah dan Dhahhak. Aisyah r.a. meriwayatkan intinya dari Nabi Saw, saat Mekah ditaklukkan dan bangsa Arab masuk Islam, Rasulullah Saw. sering mengucapkan, “Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya. Ya Allah, sungguh aku memohon ampunan kepada-Mu.” Beliau menafsirkan surah ini.” (HR. Abdur Razzaq, Al-Bukhari, Muslim dan lainnya dari Aisyah r.a).
Rasulullah Saw pernah bilang pada Aisyah, “Menurutku, itu tidak lain adalah tibanya ajalku.” Surah yang dimaksud adalah surah an-Nashr;

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (١) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (٢) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”
Surah ini merupakan berita gembira kemenangan untuk Nabi Saw terhadap seluruh bangsa Arab, pemberitahuan ajal dan persiapan untuk beralih menuju Kekasih Tertinggi dengan senantiasa bertasbih, bertahmid dan memohon ampunan.
Bila pertolongan Allah Ta’ala dan pembelaan-Nya terhadap semua orang yang memusuhimu, yaitu Quraisy dan seluruh bangsa Arab, telah terjadi, bila Mekah telah ditaklukkan untukmu, kemenangan telah engkau capai, agamamu meraih kemenangan dan tersebar luas, maka sucikanlah Allah Ta’ala seraya memuji-Nya atas beragam nikmat dan karunia yang diberikan padamu, mintalah ampunan untukmu dan para pengikutmu, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat hamba, agar mereka tidak putus asa dan kembali pada-Nya setelah berbuat kesalahan.
Pertolongan yang dilihat Rasulullah Saw. adalah kemenangan beliau atas Quraisy, Hawazan dan lainnya, dan kemenangan yang dimaksud adalah penaklukan Mekah, Thaif, kota-kota Hijaz dan sebagian besar kawasan Yaman. Ibnu Abdil Barr menjelaskan dalam Al-Isti’ab, tidaklah Rasulullah Saw. meninggal sementara masih ada satu orang Arab yang masih kafir. Semuanya masuk Islam, setelah Hunain dan Thaif, ada yang datang sendiri dan ada juga yang mengirim utusan. Setelah Rasulullah Saw. meninggal, terjadilah kemurtadan di mana-mana dan kembali ke agama semula. Maksudnya adalah bangsa Arab dan para penyembah berhala (kaum paganis).
Faidah firman Allah Ta’ala “Pertolongan Allah,” (an-Nashr: 1) padahal pertolongan mesti berasal dari Allah Ta’ala yaitu, pertolongan tidak laik terjadi kecuali karena taufiq dari Allah Ta’ala , tidak patut dilakukan oleh siapa pun selain Allah Ta’ala , atau tidak patut terjadi kecuali karena hikmah-Nya. Maksudnya adalah mengagungkan pertolongan tersebut. Firman Allah Ta’ala , “Apabila telah datang pertolongan Allah,” (an-Nashr: 1) adalah majaz, maksudnya bila pertolongan Allah Ta’ala telah terjadi.
Imam Ahmad, Baihaqi dan Nasa’i meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Saat turun ayat, ‘Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.” (an-Nashr: 1) RasuIullah Saw bersabda, ‘Kematianku telah diberitahukan kepadaku! Beliau wafat pada tahun itu.
Ibnu Umar menjelaskan, surah ini turun di Mina saat haji wada’, selanjutnya turun ayat, “Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maa’idah: 3) Setelah ayat ini turun, beliau masih hidup selama delapanpuluh hari. Setelah itu turun ayat tentang Kalalah, beliau masih hidup limapuluh hari setelahnya. Lalu turun ayat, “Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (at-Taubah: 128), beliau masih hidup tigapuluh lima hari setelah itu. Selanjutnya turun ayat, “Dan peliharalah dirimu dari (adzab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (al-Baqarah: 281), beliau masih hidup selama duapuluh satu hari setelah itu.
Tanda-tandanya, engkau wahai Nabi melihat manusia dari kalangan Arab dan lainnya masuk ke dalam agama Allah Ta’ala yang diutuskan padamu secara berkelompok, secara bergelombang setelah sebelumnya di awalnya mereka hanya masuk satu orang satu orang, dua orang dua orang, lalu satu kabilah seluruhnya masuk Islam. Ini terjadi pada tahun kesembilan dan sepuluh hijriyah yang dikenal sebagai tahun datangnya para utusan, saat utusan-utusan Arab datang ke Madinah untuk memberitahukan mereka telah masuk Islam.
Ibnu Ishaq menjelaskan, saat Rasulullah Saw menaklukkan Mekah, sepulang dari Tabuk, Bani Tsaqif masuk Islam dan berjanji setia, datanglah berbagai utusan Arab dari berbagai wilayah. Adanya seluruh bangsa Arab memusuhi Islam pada mulanya adalah karena perintah dari kabilah Quraisy, karena mereka adalah pemimpin dan penuntun bangsa Arab saat itu, penduduk Baitullah dan tanah suci, keturunan Ismail a.s. dan pemimpin bangsa Arab.
Saat Mekah ditaklukkan, kaum Quraisy tunduk dan masuk Islam, bangsa Arab tahu mereka tidak memiliki kekuatan untuk memerangi dan memusuhi Rasulullah Saw, akhirnya mereka semua masuk ke dalam agama Allah Ta’ala secara berbondong-bondong seperti yang disampaikan Allah Ta’ala ,
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.” (an-Nashr: 1-3)
Perintah Ilahi datang untuk Nabi Saw agar bertasbih setelah kemenangan-kemenangan militer tercapai dan Islam tersebar luas. Maknanya; saat Mekah ditaklukkan dan Islam menyebar luas, bersyukurlah kepada Allah Ta’ala atas segala nikmat yang diberi dengan menunaikan shalat, memahasucikan-Nya dari semua yang tidak laik bagi-Nya, memahasucikan-Nya dari ingkar janji berupa kemenangan yang pernah dijanjikan padamu, sandingkan pujian dengan bertasbih, maksudnya satukan keduanya, karena kemenangan tersebut mengharuskan untuk memuji Allah Ta’ala atas anugerah dan karunia agung yang Ia beri.
Mintalah ampunan dari Allah Ta’ala untukmu, seraya merendahkan diri untuk-Nya dan menganggap amalanmu pendek sebagai pengajaran bagi umatmu. Mintakan pula ampunan untuk para pengikutmu dari kalangan orang-orang mukmin atas keresahan dan ketakutan karena pertolongan tidak kunjung tiba yang mereka rasakan, karena Allah Ta’ala menerima tobat orang-orang yang memohon ampunan pada-Nya, menerima tobat dan merahmati mereka dengan menerima tobat mereka. Ia Maha menerima tobat hamba agar mereka tidak putus asa dan kembali pada-Nya setelah berbuat salah.
Ibnu Katsir,  dalam tafsirnya menjelaskan:
Setelah turun surah an-Nashr ini,  Rasulullah  Saw lebih bersungguh-sungguh lagi dalam beramal untuk akhiratnya. Adapun yang ditafsirkan oleh Ibnu Abbas r.a dan Umar r.a, bahwa surah ini memberitahukan tentang dekatnya kematian Rasulullah Saw., maka maksud ayat ialah, “Ketahuilah oleh kamu Muhammad, bahwa bila engkau telah menaklukan kota Mekah, yaitu kampung halaman yang telah mengeluarkan kamu, dan orang-orang sudah masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka perhatian Kami kepadamu di dunia telah berakhir, lalu bersiap-siaplah untuk menghadap Kami.  Sebab, akhirat adalah lebih baik bagimu daripada dunia. Dan kelak, Tuhanmu akan memberimu pemberian sehingga kamu akan puas.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di,  dalam tafsirnya menjelaskan:
a.   Dalam surah yang mulia ini (an-Nashr) terdapat berita gembira dan sekaligus perintah untuk Rasul-Nya pada saat berita gembira itu terwujud, serta terdapat sebuah isyarat dan peringatan akan beberapa hal yang disebabkan olehnya.   Berita gembira yang dimaksud adalah berita gembira pertolongan Allah Ta’ala untuk Rasul-Nya, penaklukkan Makkah dan masuknya orang-orang “ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong.” Sedangkan perintah setelah terwujudnya kemenangan dan penaklukan adalah perintah Allah untuk Rasul-Nya agar bersyukur kepada Allah atas hal itu serta memahasucikan dengan memuji-Nya dan memohon ampunan pada-Nya.
b.   Berkaitan dengan isyarat, terdapat dua isyarat dalam ayat ini:
Isyarat pertama, isyarat bahwa kemenangan akan terus berlangsung bagi Islam dan semakin bertambah manakala terwujud tasbih (memahasucikan) Allah dengan memuji-Nya dan memohon ampunan pada-Nya dari Rasul-Nya, karena hal ini termasuk rasa syukur, dan Allah Ta’ala berfirman,  “Sungguh jika kalian bersyukur, pasti Kami akan tambahkan (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7).
Hal itu telah terwujud di masa Khulafa’ Rasyidin dan generasi setelahnya dari umat ini. Dan pertolongan Allah Ta’ala senantiasa berlangsung hingga Islam mencapai apa yang tidak bisa dicapai oleh agama-agama lain dan banyak orang yang masuk ke dalam Islam dalam jumlah yang belum pernah ada pada agama lain, hingga terjadilah pembangkangan terhadap perintah Allah Ta’ala dalam umat ini sehingga mereka tertimpa perpecahan dan terjadilah apa yang terjadi. Meski demikian, umat dan agama ini tetap memiliki rahmat dan kelembutan Allah Ta’ala yang tidak pemah terlintas di benak atau berlalu dalam khayalan.
Isyarat kedua, adalah dekatnya ajal Rasulullah Saw. Alasannya adalah karena usia beliau adalah usia mulia yang dengannya Allah SWT bersumpah, dan Allah telah memberitahukan bahwa hal-hal utama itu ditutup dengan istighfar seperti shalat, haji, dan lainnya. Allah Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya untuk bertahmid dan beristighfar dalam kondisi itu sebagai sebuah isyarat bahwa ajal beliau sudah dekat. Hendaklah beliau mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Rabb beliau dan menutup usianya dengan sesuatu paling istimewa yang beliau miliki. Semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan pada beliau. Rasulullah Saw menafsirkan al-Qur’an dan mengucapkan tasbih dan istighfar dalam shalat. Beliau banyak membaca ketika rukuk dan sujud,
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْلِي
“Mahasuci Engkau, dan dengan memuji-Mu Allah, Rabb kami. Ya Allah, ampunilah aku.” (diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim)  

Hikmah dan Pelajaran:

  1. Surah an-Nashr ini diturunkan kepada Rasulullah Saw sebagai berita gembira atas perjuangan beliau dalam mendakwahkan Islam, yaitu dengan berbagai kemenangan dalam penaklukan wilayah dan banyaknya yang memeluk Islam serta penaklukan Mekah dengan cara damai.
  2. Turunnya surah an-Nashr ini merupakan isyarat akan dekatnya ajal Rasulullah Saw, dan telah sempurnanya perjuangan Rasulullah Saw menyampaikan risalah, sehingga sudah saatnya bagi beliau mempersiapkan diri untuk menghadap Allah Ta’ala .
  3. Allah Ta’ala akan selalu menolong dan memberi kemenangan kepada hamba-hambaNya yang selalu berjuang untuk mendakwahkan Islam dan meninggikan kalimat-kalimatNya.
  4. Perintah Allah Ta’ala kepada kita agar berdzikir kepada-Nya dengan memperbanyak tasbih dan tahmid
  5. Perintah Allah Ta’ala kepada kita agar memperbanyak memohon ampunan (istighfar) dan bertaubat kepada Allah Ta’ala serta mempersiapkan bekal sebaik-baiknya untuk menghadap Allah Ta’ala. Kita tidak tahu kapan ajal menjemput, berbeda dengan Rasulullah Saw yang telah diberi isyarat dekatnya ajal beliau.
Referensi:
  1. Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir al-Wasith jilid 3;
  2. Syaikh Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Taisiru al-Aliyyil Qadir li Ikhtishari Tafsir Ibnu Katsir jilid 4;
  3. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan.