...semoga semua pihak yang terlibat dengan tulisan ini medampat pahala dari Allah, penulis maupun yg membaca Nya...Insya Allah...amin....

Rabu, 23 Juli 2014

SURAH AL-INSYIQAQ/"TERBELAH" (QS 84)

 

Tadabbur Al-Qur'an: Surah Al-Insyiqaq ayat 19-20




"Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan), maka mengapa mereka tidak beriman?" (QS:Al-Insyiqaq:19-20)

Disebutkan dalam footnote Al-Qur’an terjemahan Indonesia bahwa yang dimaksud dengan “…tingkat demi tingkat dalam kehidupan” adalah tahapan kehidupan manusia semenjak dari air mani yang hina, kemudian dilahirkan, kemudian melalui tahapan anak-anak, remaja, dan dewasa. Proses dari hidup sampai mati, dan kemudian dibangkitkan kembali pada hari akhir.

Demikianlah, sejatinya peristiwa demi peristiwa yg bergantian dalam kehidupan kita bukanlah sekedar pergantian kejadian belaka. Namun setiap peristiwa itu ada tingkatan kesulitannya yg akan terus naik apabila kita telah melalui suatu tingkatan. Dan akan terus demikian sampai akhir hidup kita. Dan semestinyalah setiap peristiwa dalam kehidupan kita adalah peristiwa yg harus kita sikapi dengan keimanan. Iman yg kokoh dan yakin bahwa setiap peristiwa dlm hidup kita pasti sesuai dengan kadar kemampuan kita (resapi makna firman ALLAH dalam surat Al-Baqarah ayat 216 (Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.), dan pasti terdapat hikmah yg indah di dalam nya, dan tiada yang Allah kehendaki bagi kita dari semua peristiwa itu kecuali kebaikan untuk hidup kita (rasakan kasih sayang ALLAH dalam firman-Nya pada surah Al-Baqarah ayat 286(Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".). 

Maka jangan pernah berpikir hidup yg kita jalani ke depannya adalah jalan yg mudah, bahkan disebutkan dalam surah Al-Balad, orang-orang yang melakukan ketaatan pada ALLAH sebagai orang yang sedang menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Namun berharaplah pada Allah agar kita diberikan kemampuan untuk melalui semua tingkatan peristiwa dalam hidup kita dengan mudah dan hati yg riang lagi ridha pada ketetapan Nya dengan penuh keimanan.
Mudah-mugahan bermanfaat, singkat aja...lagi puasa...
Selamat hari raya Idul fitri...mohon maaf lahir dan bantin...
WaLlaahu a'lam
Pokok-pokok Isinya:
Peristiwa-peristiwa pada permulaan terjadinya hari kiamat; peringatan bahwa manusia bersusah payah menemui Tuhannya; dalam menemui Tuhannya kelak ada yang mendapat kebahagiaan dan ada pula yang mendapat kesengsaraan; tingkat-tingkat kejadian dan kehidupan manusia di dunia dan di akhirat.
Surah ini dinilai sebagai surah yang ke-83 dari segi urutan turunnya. Ia turun sesudah surah al-Infithar dan sebelum surah ar-Rum. Terdiri dari 23 ayat.
Tafsir wa Bayan
إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ (1) وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ (2) وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ (3) وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ (4) وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ (5)
1.Apabila langit terbelah, 2. dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh, 3. dan apabila bumi diratakan, 4. dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan sudah semestinya bumi itu patuh.
Allah menggambarkan kejadian hari kiamat yang sangat dahsyat. Langit yang kokoh sebagai atap bumi saatnya menepati janji Allah, pada hari ini langit menjadi hancur berkeping-keping, demikian pula bumi yang menjadi lantai dan pijakan dan tempat tinggal akan mengalami hal yang sama, terguncang dengan kerasnya hingga menyemburkan seluruh isinya. Baik mayat-mayat yang terkubur sejak nabi Adam Alaihissalam maupun harta benda yang terpendam diperut bumi seperti emas dan perak, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Muslim dalam kitab shahihnya dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu.
Ada beberapa hikmah yang dapat dipetik dari beberapa ayat tersebut:
1. Datangnya hari kiamat adalah suatu yang pasti. Sudahkan kita mempersiapkan bekal untuk menghadapinya? Sebaik-bekal adalah taqwa.
2. Susunan alam (Nizhomul Kaun) yang begitu rapi akan berubah seketika menjadi berantakan karena titah Tuhan yang ingin mengakhiri babak dunia ini dan akan diganti dengan nizhom akhirat yang kekal.
3. Langit dan bumi adalah benda mati sangat taat dengan ketentuan Ilahi, mereka menolak saat ditawari amanah menjadi khalifah (QS.Al-Ahzaab: 72) Nah sudah sepatutnya manusia sebagai makhluk Allah yang berakal, lebih taat kepada Rab-nya. Akan tetapi sedikit diantara mereka yang taat dan beriman, sedangkan kebanyakan diantara mereka yang ingkar (kafir).
4. Seluruh manusia akan dibangkitkan dari alam barzah untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia. Oleh karena itu berhati-hatilah didalam berbuat jangan sampai terjerumus kedalam kubangan dosa dan maksiat.
Kemudian pada ayat keenam Allah menggambarkan tentang ragam amal manusia seperti firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ (6)
Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya”.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kebebasan kepada hamba-hamba-Nya untuk menentukan pilihan dalam beramal, yang masing-masing amal memiliki konsekuensi berbeda-beda, sekalipun Allah tidak suka kepada perbuatan jelek. Ganjaran pahala akan diperoleh bagi yang beramal baik, dan siksa neraka bagi yang amal buruk. Dalam kenyataannya banyak diantara manusia memilih amal jelek (tidak beriman) mereka berbuat tanpa batas yang penting mereka puas; pergaulan bebas menjadi tren pemuda masakini, samen laven jadi kebanggaan, perzinahan terlokalisasi, perjudian terlegalisasi, perampokan disertai pembunuhan, narkoba dan lain-lain. Apakah mereka tidak sadar bahwa mereka semua nanti akan menghadap Tuhan (famulaqiihi) demi mempertanggungjawabkan amalannya, seperti tertera pada ayat enam ini dan hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berikut ini:
عن جابر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “قال جبريل: يا محمد، عش ما شئت فإنك ميت، وأحبب ما شئت فإنك مفارقه، واعمل ما شئت فإنك ملاقيه
“Dari Jabir beliau berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, Malaikat Jibril berkata:”Wahai Muhammad hiduplah sesukamu sesungguhnya kamu akan mati, dan cintailah siapa saja sesukamu sesungguhnya kamu akan berpisah dengannya, dan berbuatlah (beramallah) sesukamu sesungguhnya kamu akan bertemu dengannya (amalmu)”. (HR. Abu Daud)
Saatnya manusia memetik hasil dari perbuatannya di dunia, pengadilan tinggi telah dibuka, padang Mahsyar adalah tempatnya. Semua manusia menunggu raport; catatan amal mereka berharap-harap agar catatan amalnya bisa diterima dengan tangan kanannya sehingga hisabnya akan mudah seperti tertera pada ayat ketujuh sampai sembilan berikut ini:
فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ (7) فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا (8) وَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُورًا (9)
“Adapun bagi orang yang diberikan buku catatannya di tangan kanannya. Ia akan diperhitungkan dengan perhitungan yang mudah. Dan ia akan kembali kepada kaumnya dengan gembira.”
Aisyah radhiyallahu anha berkata: ”Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berdoa pada pada sebagian sholatnya: ”Ya Allah hisablah saya dengan hisab ringan”, ketika selesai shalat, aku bertanya, ya Rasulullah apakah yang dimaksud dengan hisab yang ringan? Rasulullah menjawab, yaitu diperlihatkan kepada seorang hamba tentang catatan amalannya kemudian Allah mengampuninya, sedangkan siapa yang hisabnya berat wahai Aisyah maka ia akan binasa”. (HR. Muslim)
Setelah selesai proses hisab maka manusia akan melewati shirat (jembatan), bagi mereka yang ringan hisabnya maka ia langsung menuju surga dengan penuh kegembiraan. Disana ia dipertemukan dengan keluarganya yang beriman.
Adapun orang-orang yang mendapat raport dari tangan kiri maka tempat kembalinya adalah neraka. Seperti termaktub pada ayat 10-15:
وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ (10) فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا (11) وَيَصْلَى سَعِيرًا (12) إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا (13) إِنَّهُ ظَنَّ أَنْ لَنْ يَحُورَ (14) بَلَى إِنَّ رَبَّهُ كَانَ بِهِ بَصِيرًا (15)
Dan adapun orang-orang yang diberikan catatan amalnya dari balik punggungnya; yaitu orang-orang kafir maka mereka akan menemui kebinasaan, mereka masuk kedalam neraka untuk merasakan panas dan siksa yang pedih. Dikarenakan dulu mereka hidup bersenang-senang tanpa batas bersama keluarganya, tidak pernah berfikir bahwa mereka akan dibangkitkan kembali. Demikian juga mereka tidak pernah merasa jera dalam perbuatan maksiat. Sungguh mereka akan dibangkitkan dan akan menemui dan menuai hasil berbuatannya selama di dunia. Karena Allah senantiasa mengawasi dan memantaunya, Dia (Allah) mengetahui keadaannya sejak dari lahir hingga mati.
- See more at: http://ikadijatim.org/tadabbur-qs-al-insyiqaq-1-15/#sthash.0soVTYf5.dpuf
Pokok-pokok Isinya:
Peristiwa-peristiwa pada permulaan terjadinya hari kiamat; peringatan bahwa manusia bersusah payah menemui Tuhannya; dalam menemui Tuhannya kelak ada yang mendapat kebahagiaan dan ada pula yang mendapat kesengsaraan; tingkat-tingkat kejadian dan kehidupan manusia di dunia dan di akhirat.
Surah ini dinilai sebagai surah yang ke-83 dari segi urutan turunnya. Ia turun sesudah surah al-Infithar dan sebelum surah ar-Rum. Terdiri dari 23 ayat.
Tafsir wa Bayan
إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ (1) وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ (2) وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ (3) وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ (4) وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ (5)
1.Apabila langit terbelah, 2. dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh, 3. dan apabila bumi diratakan, 4. dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan sudah semestinya bumi itu patuh.
Allah menggambarkan kejadian hari kiamat yang sangat dahsyat. Langit yang kokoh sebagai atap bumi saatnya menepati janji Allah, pada hari ini langit menjadi hancur berkeping-keping, demikian pula bumi yang menjadi lantai dan pijakan dan tempat tinggal akan mengalami hal yang sama, terguncang dengan kerasnya hingga menyemburkan seluruh isinya. Baik mayat-mayat yang terkubur sejak nabi Adam Alaihissalam maupun harta benda yang terpendam diperut bumi seperti emas dan perak, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Muslim dalam kitab shahihnya dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu.
Ada beberapa hikmah yang dapat dipetik dari beberapa ayat tersebut:
1. Datangnya hari kiamat adalah suatu yang pasti. Sudahkan kita mempersiapkan bekal untuk menghadapinya? Sebaik-bekal adalah taqwa.
2. Susunan alam (Nizhomul Kaun) yang begitu rapi akan berubah seketika menjadi berantakan karena titah Tuhan yang ingin mengakhiri babak dunia ini dan akan diganti dengan nizhom akhirat yang kekal.
3. Langit dan bumi adalah benda mati sangat taat dengan ketentuan Ilahi, mereka menolak saat ditawari amanah menjadi khalifah (QS.Al-Ahzaab: 72) Nah sudah sepatutnya manusia sebagai makhluk Allah yang berakal, lebih taat kepada Rab-nya. Akan tetapi sedikit diantara mereka yang taat dan beriman, sedangkan kebanyakan diantara mereka yang ingkar (kafir).
4. Seluruh manusia akan dibangkitkan dari alam barzah untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia. Oleh karena itu berhati-hatilah didalam berbuat jangan sampai terjerumus kedalam kubangan dosa dan maksiat.
Kemudian pada ayat keenam Allah menggambarkan tentang ragam amal manusia seperti firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ (6)
Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya”.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kebebasan kepada hamba-hamba-Nya untuk menentukan pilihan dalam beramal, yang masing-masing amal memiliki konsekuensi berbeda-beda, sekalipun Allah tidak suka kepada perbuatan jelek. Ganjaran pahala akan diperoleh bagi yang beramal baik, dan siksa neraka bagi yang amal buruk. Dalam kenyataannya banyak diantara manusia memilih amal jelek (tidak beriman) mereka berbuat tanpa batas yang penting mereka puas; pergaulan bebas menjadi tren pemuda masakini, samen laven jadi kebanggaan, perzinahan terlokalisasi, perjudian terlegalisasi, perampokan disertai pembunuhan, narkoba dan lain-lain. Apakah mereka tidak sadar bahwa mereka semua nanti akan menghadap Tuhan (famulaqiihi) demi mempertanggungjawabkan amalannya, seperti tertera pada ayat enam ini dan hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berikut ini:
عن جابر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “قال جبريل: يا محمد، عش ما شئت فإنك ميت، وأحبب ما شئت فإنك مفارقه، واعمل ما شئت فإنك ملاقيه
“Dari Jabir beliau berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, Malaikat Jibril berkata:”Wahai Muhammad hiduplah sesukamu sesungguhnya kamu akan mati, dan cintailah siapa saja sesukamu sesungguhnya kamu akan berpisah dengannya, dan berbuatlah (beramallah) sesukamu sesungguhnya kamu akan bertemu dengannya (amalmu)”. (HR. Abu Daud)
Saatnya manusia memetik hasil dari perbuatannya di dunia, pengadilan tinggi telah dibuka, padang Mahsyar adalah tempatnya. Semua manusia menunggu raport; catatan amal mereka berharap-harap agar catatan amalnya bisa diterima dengan tangan kanannya sehingga hisabnya akan mudah seperti tertera pada ayat ketujuh sampai sembilan berikut ini:
فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ (7) فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا (8) وَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُورًا (9)
“Adapun bagi orang yang diberikan buku catatannya di tangan kanannya. Ia akan diperhitungkan dengan perhitungan yang mudah. Dan ia akan kembali kepada kaumnya dengan gembira.”
Aisyah radhiyallahu anha berkata: ”Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berdoa pada pada sebagian sholatnya: ”Ya Allah hisablah saya dengan hisab ringan”, ketika selesai shalat, aku bertanya, ya Rasulullah apakah yang dimaksud dengan hisab yang ringan? Rasulullah menjawab, yaitu diperlihatkan kepada seorang hamba tentang catatan amalannya kemudian Allah mengampuninya, sedangkan siapa yang hisabnya berat wahai Aisyah maka ia akan binasa”. (HR. Muslim)
Setelah selesai proses hisab maka manusia akan melewati shirat (jembatan), bagi mereka yang ringan hisabnya maka ia langsung menuju surga dengan penuh kegembiraan. Disana ia dipertemukan dengan keluarganya yang beriman.
Adapun orang-orang yang mendapat raport dari tangan kiri maka tempat kembalinya adalah neraka. Seperti termaktub pada ayat 10-15:
وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ (10) فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا (11) وَيَصْلَى سَعِيرًا (12) إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا (13) إِنَّهُ ظَنَّ أَنْ لَنْ يَحُورَ (14) بَلَى إِنَّ رَبَّهُ كَانَ بِهِ بَصِيرًا (15)
Dan adapun orang-orang yang diberikan catatan amalnya dari balik punggungnya; yaitu orang-orang kafir maka mereka akan menemui kebinasaan, mereka masuk kedalam neraka untuk merasakan panas dan siksa yang pedih. Dikarenakan dulu mereka hidup bersenang-senang tanpa batas bersama keluarganya, tidak pernah berfikir bahwa mereka akan dibangkitkan kembali. Demikian juga mereka tidak pernah merasa jera dalam perbuatan maksiat. Sungguh mereka akan dibangkitkan dan akan menemui dan menuai hasil berbuatannya selama di dunia. Karena Allah senantiasa mengawasi dan memantaunya, Dia (Allah) mengetahui keadaannya sejak dari lahir hingga mati.
- See more at: http://ikadijatim.org/tadabbur-qs-al-insyiqaq-1-15/#sthash.0soVTYf5.dpuf