...semoga semua pihak yang terlibat dengan tulisan ini medampat pahala dari Allah, penulis maupun yg membaca Nya...Insya Allah...amin....

Selasa, 25 Februari 2014

Surat Al-Qiyamah (QS : 75)

Tafsir (Al Qiyamah 36-40)

"Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?" (QS. Al Qiyamah 36)

Firman
Allah  mengisyaratkan kedudukan makhluk-Nya. Secara garis besar memiliki arti tentang dua hal yang kedudukannya sama (manusia), akan tetapi satu hal lagi berbeda dari keduanya (Allah ). Perhatikan ayat berikut, "Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)." (QS. An Naml 62). Seperti lengan manusia, baik kiri dan kanan memiliki fungsi yang sama. Bila tangan kanan dapat menulis seyogyanya tangan kiri juga bisa menulis. Tidak ada perbedaan selain kebiasaan atau perilaku yang dibentuk. Begitu juga dengan manusia itu sendiri, ada lelaki dan wanita, berpasangan dari jenisnya sendiri. 

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al Baqarah 186). Sementara yang berbeda ketika manusia memiliki lengan dengan bagian masing-masing. Ada yang kiri dan ada pula sisi kanan. Tidaklah mungkin seorang manusia mempunyai pilihan pada kedua lengannya. Yaitu sisi kiri pada kedua lengannya maupun memiliki sisi kanan pada keduanya. Begitu juga Allah  tidak bisa dimiliki oleh salah satu sisi saja atau hanya kepada manusia tertentu saja. Al Quran mengisyaratkan dalam ayatnya, "Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al A'raf 55). Jika dikaji lebih dalam, tidak ada satupun yang mengetahui kehendak-Nya kecuali yang diterangkan oleh Allah , sedangkan manusia hanya bisa menafsirkan dan menerjemahkan dari kehidupannya di dunia. Dalam sebuah hadis qudsi diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang berbunyi,

"Aku berada sesuai dengan prasangka seseorang kepada-Ku dan Aku selalu bersamanya, jika dia berdoa kepada-Ku." (HR. al-Bukhari-Muslim)

Pada saat terjadi musibah, manusia hanya bisa bertanya-tanya dalam hati dan memohon ampunan, apakah cobaan itu merupakan nikmat dari Allah  (pembersih atas dosa) atau malah azab bagi manusia yang tidak mengenal dengan baik Tuhannya. Bahkan manusia ada yang tega memberi bantuan atau pertolongan kepada sesamanya yang sedang mengalami kesulitan atau kesusahan dengan menggunakan tangan kiri (berkonotasi negatif) tidak mempergunakan tangan kanan (kebaikan) seperti lazimnya. Akan tetapi hal ini tidak berlaku terhadap Allah . Seburuk-buruknya perbuatan manusia, Allah  yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang tidak akan menganiaya makhluk-Nya sendiri. Perumpamaan tangan kanan-Nya selalu memberikan pertolongan dan bantuan. Hal inilah termasuk kedalam pembeda sebagaimana disebutkan di dalam Al Quran, "Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina."" (QS. Ghafir 60).
"Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim),"
(QS. Al Qiyamah 37)


Kembali firman ini menyiratkan tentang keadaan yang sangat rumit, terlebih ada tiga faktor yang terkait. Yang pertama adalah manusia, hal ini terlihat dari keseluruhan ayat yang merujuk kepada umat manusia. Manusia secara keadaan alami membutuhkan satu sama lain, tidak bisa dipungkiri bahwa seorang lelaki membutuhkan seorang wanita untuk menemani dan melanjutkan keturunan. Namun harus diakui bahwa seorang wanita (isteri) tidak boleh berlaku angkuh terhadap suaminya (lelaki), karena sesungguhnya manusia pertama kali yang diciptakan oleh Allah  adalah seorang lelaki dan daripadanya diciptakan pasangannya.

Kedua yakni Adam a.s. yang diciptakan dari tanah, sesuatu yang wujud sebenarnya mati (tanah) kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya sehingga menjadi hidup. Ilustrasi tentang keadaan ini dapat divisualisasikan berupa bumi dan langit. Dimana bumi sebagai wanita, dan langit sebagai seorang lelaki. Sementara air hujan tidak akan kembali lagi ke langit dalam bentuk gumpalan (butiran) air, kecuali terjadi penguapan yang prosesnya membutuhkan faktor lain.  

Yang terakhir adalah Allah  sendiri yang berkedudukan sebagai hakim yang adil, firman tidak tercipta dengan sendirinya tanpa ada kehendak-Nya. Sebagaimana kebaikan tidak pernah berjumpa dengan keburukan kecuali masing-masing atas nama Allah  sebagai penyekatnya. Salah satu hadis dari Nabi Muhammad saw menyiratkan tentang kejadian ini,

Abu Hurairah meriwayatkan Rasulullah saw bersabda, "Api neraka tidak mungkin menyentuh seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, sebagaimana susu tidak mungkin kembali lagi ke tetek hewan yang diperah. Begitu juga, debu di jalan Allah itu tidak mungkin bertemu dengan kepulan asap api neraka selama-lamanya." (HR. at-Tirmidzi)
    
"kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya," (QS. Al Qiyamah 38)

Selanjutnya, ayat ini secara jelas menyatakan tahapan kejadian manusia. Bila dikaji lebih lanjut ayat ini mengandung pengertian sesungguhnya semua berawal dari satu hal (nutfah) yang menjadi dua bagian (lelaki dan wanita) bukan sebaliknya. Terlebih lagi masing-masing mempunyai keinginan sendiri sehingga dapat melalaikan Allah  sebagai sang Pencipta. Disebutkan di dalam Al Quran, "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS. Az Zalzalah 7-8). Agar manusia kembali ke jalur, sadar derajat, dan sadar kedudukannya dihadapan Allah . Dan dikisahkan juga dalam sebuah hadis,

Anas meriwayatkan Rasulullah saw bersabda bahwa pada hari kiamat nanti ada seorang lelaki penghuni surga melihat penghuni neraka. Penghuni neraka itu memanggilnya, "Fulan, apakah anda mengenal saya?" Penghuni surga menjawab, "Tidak, siapa anda?" Penghuni neraka berkata, "Saya adalah orang yang pernah anda singgahi di dunia, anda meminta air minum, kemudian saya memberinya." Penghuni surga berkata, "Ya, saya mengenal anda." Penghuni neraka berkata, "Mintalah syafaat kepada Allah dengan minuman itu untuk saya." Kemudian, penghuni surga itu memintakan syafaat kepada Allah untuknya. Allah mengabulkan permintaannya dan mengeluarkan penghuni neraka itu dari neraka." (HR. Anas bin Malik)

"lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan."
(QS. Al Qiyamah 39)

Berbicara mengenai surah ini, sudah pasti berbicara tentang hal-hal yang terjadi pada hari kiamat. Jika ayat ini diperuntukkan bagi dunia, maka makna dan kandungan ayat tidak lebih dari kejadian penciptaan manusia. Akan tetapi  jika peristiwanya terjadi di akhirat, maka makhluk hidup yang tidak pernah terlintas di akal manusia dan tidak pernah disangka bahwa mereka hidup sebagaimana kehidupan manusia lazimnya. Perhatikan ayat Al Quran berikut,
"Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nya-lah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur)." (QS. Ar Rum 17-19). Maknanya semakin istimewa jika nutfah tersebut ditujukan untuk penciptaan segenap makhluk di akhirat. Sedangkan bagi makhluk yang ada di dunia semakin menambah keyakinan mereka. Sama-sama diketahui bahwa segala kehidupan yang ada di dunia merupakan makanan dari kehidupan akhirat. Salah satu hadis menyiratkan tentang hal ini,

Ubay bin Ka'b mempunyai tempat menjemur kurma. Setiap kali Ubay menjemur kurma di tempat itu, pasti ada kurma yang hilang. Pada suatu malam, Ubay mengintip, ternyata Ubay melihat seekor hewan melata sebesar anak berumur sekitar lima tahun. Ubay mengucapkan salam kepada hewan itu. Setelah hewan itu menjawab salamnya, Ubay bertanya, "Kamu ini Jin atau manusia ?" Hewan itu menjawab, "Aku adalah Jin." Ubay berkata, "Aku ingin memegang tanganmu." Setelah Ubay memegang tangan hewan itu, ternyata tangan, kaki, dan bulunya, seperti kaki dan bulu anjing. Ubay berkata, beginikah Jin diciptakan ?" Jin itu menjawab, "Benar, bahkan ada yang lebih kasar dariku." Ubay berkata, "Mengapa kamu mencuri ?" Jin itu menjawab, "Aku mendapatkan informasi, Anda sangat senang bersedekah, aku ingin mendapat jatah makanan dari Anda." Ubay bertanya, "Bagaimana caranya agar kami bisa terjaga dari bangsa Jin ?" Jin itu menjawab, "Bacalah ayat Kursi. Orang yang membacanya sore hari, dia pasti dijaga dari gangguan kami hingga pagi hari. Sedangkan, orang yang membacanya pagi hari, dia pasti dijaga dari gangguan kami hingga sore hari." Setiba waktu subuh, Ubay menemui Rasulullah saw, dan menceritakan kejadian tadi. Rasulullah saw bersabda, "Si pendusta itu, benar." (HR. an Nasai)

"Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (QS. Al Qiyamah 40)

Maksud ayat ini bukanlah sebatas kematian pada jasad semata, apa lagi keduniawian sebagai penyebab kematiannya, sebagaimana disebutkan di dalam Al Quran,
"Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan." (QS. Ali Imran 157). Manusia sepatutnya mematikan jiwanya dari hal-hal yang bersifat keduniawian yang lebih mementingkan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat. Seandainya ia mengetahui pahalanya tentu ia tidak akan menyia-nyiakan kehidupan akhirat dan tetap berjuang untuk meraihnya. Al Quran menyebutkan, "Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (surga) yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun." (QS. Al Hajj 58-59). Sesungguhnya menghidupkan orang mati bukanlah pekerjaan yang sulit bagi Allah . Akan tetapi Allah  juga berkuasa untuk menghidupkan hati orang-orang yang telah mati dari menyakini akhirat. Dan barangsiapa berjuang untuk mencari kehidupan akhiratnya, tentulah Allah  tidak akan menyia-nyiakan pekerjaannya bahkan telah ditetapkan pahala untuknya. "Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An Nisa 100). Dan diriwayatkan oleh Abu Hurairah,

Rasulullah saw bersabda, "Orang yang berangkat untuk menunaikan ibadah haji, lalu meninggal, maka dicatat untuknya pahala Haji hingga hari kiamat nanti. Begitu juga, orang yang pergi menunaikan Umrah, lalu meninggal, ditulis baginya pahala Umrah hingga hari kiamat nanti. Selain itu, orang yang pergi berjuang di jalan Allah, lalu meninggal, maka ditulis untuknya pahala berjuang hingga hari kiamat nanti." (HR. Abu Ya'la)