...semoga semua pihak yang terlibat dengan tulisan ini medampat pahala dari Allah, penulis maupun yg membaca Nya...Insya Allah...amin....

Rabu, 17 September 2014

Surat Ath-Thaariq (QS 86)



Tema surat ini masih berkisar tentang hari akhirat. Adapun poros utama pembicaraan adalah tentang manusia, rahasia penciptaan serta tahapan-tahapannya kemudian memuat tanda-tanda kekuasaan Allah yang tiada batasnya. Dan pembenaran terhadap al-Qur’an sebagai wahyu dan kitab Allah yang menjadi pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Muatan surat ini ditutup dengan hiburan kepada Nabi Muhammad supaya tidak terlalu menanggapi tekanan dari kaum kafir Quraisy. Agar beliau terus bekerja dan berdakwah tanpa memikirkan resiko. Karena Allah yang akan menangani dan mengurusi mereka.
Yang Datang pada Malam Hari
Demi langit dan yang datang pada malam hari. Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? (yaitu) bintang yang cahayanya menembus” (QS. 86: 1-3)
Allah kembali bersumpah dengan langit yang bertingkat-tingkat yang diciptakan-Nya tinggi menjulang tanpa ada tiang penyangganya. Luas dan dihuni oleh malaikat-malaikat-Nya yang mulia dan dimuliakan.
Menariknya Allah menggandengkan sumpah dengan langit dengan sesuatu yang datang di malam hari yang oleh sebagian besar pakar tafsir dianggap sebagai bintang terang yang muncul di malam hari. Ini diperkuat dengan ayat ketiga yang menjelaskannya; yaitu bintang yang cahayanya menembus kegelapan malam.
Jika saja benda mati seperti bintang itu mampu menembus kegelapan malam sehingga sampai cahayanya di bumi, tentu malaikat-malaikat Allah mampu menembus apapun dengan titah-Nya. Karena … “Tidak ada suatu jiwa pun (diri) melainkan ada penjaganya” (QS. 86: 4).
Siapakah penjaga tersebut? Yaitu para penjaga yang selalu mempunyai akses langsung terhadap setiap jiwa manusia. Sebagian ahli tafsir ada yang mengatakan bahwa ini demi menjaga manusia dari godaan setan. Secara umum, yang dimaksud di sini adalah pencatat amal manusia. Karena ia selalu menyertainya dengan berbagai tindakan dan amal yang dikerjakannya. Tindakan yang dikerjakan manusia tersebut dijaga dan tak akan dilewatkan sedetikpun. Semua direkam dengan teliti dan detil.

Rahasia Penciptaan Manusia
Untuk kepentingan apakah hal di atas perlu diingatkan kepada para manusia? Hal ini bisa diketahui dengan perintah Allah pada ayat selanjutnya. Yaitu perintah kepada setiap manusia yang disebut secara langsung di sini untuk memperhatikan penciptaannya. Dari apa ia diciptakan? Bagimana ia berubah menjadi seperti sekarang? Hingga kemudian ia akan mati dan dikembalikan kepada asalnya.
Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan. Yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan” (QS. 86: 5-7)
Manusia diciptakan dari air yang memancar. Yang secara kasat mata seolah tiada kehidupan di sana. Dari air yang kelihatannya tak ada kehidupan itulah manusia diciptakan. Kemudian dimatikan dan kelak dihidupkan lagi.
Siapakah yang membuat air tersebut memancar. Siapakah yang menurunkan syariat supaya kedua air itu bertemu. Dengan sah dan halal. Pertemuan kedua air itu bukanlah sekedar untuk melepas syahwat antara laki-laki dan perempuan. Pertemuan kedua air itu juga bukan sesuatu yang sepele. Bukan sesuatu yang kebetulan. Tapi itu adalah ibadah yang mengemban misi penampakan ayat-ayat dan tanda kekuasaan Allah. Dan Maha Besar Allah yang memberikan tugas berat tersebut dengan diberikan sebuah kenikmatan dalam menjalaninya.
Siapakah yang mempertemukan kedua air tersebut. Dan dari air itu kemudian diubah menjadi sebuah kehidupan dengan ritme yang teratur dan tahapan yang sangat luar biasa. Siapakah yang sanggup melakukan hal itu?
Air yang dipancarkan dan dicampurkan di atas diproduksi dari tulang punggung (belakang) laki-laki dan dari tulang dada perempuan. Air yang sangat cair dan sangat lunak tersebut diproduksi di dalam benda yang sangat keras. Yaitu tulang. Satu diciptakan dari arah belakang dan satu lagi di ciptakan dari arah depan. Inilah sebenarnya kodrat manusia. Laki-laki dan perempuan.
Bahwa manusia secara fitrah adalah berpasangan dan saling melengkapi. Laki-laki dan perempuan. Ada depan dan belakang. Karena memang seharusnya demikian. Misi kekhilafahan manusia hanya bisa dikerjakan bersama oleh laki-laki dan perempuan, sebagaimana ada bulan dan matahari, ada malam dan siang.
Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati).  Pada hari dinampakkan segala rahasia. Maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong” (QS. 86: 8-10)
Dzat yang mencipta manusia dari bahan dan proses seperti yang dijelaskan di atas, sudah tentu sanggup dan kuasa untuk mematikan sekaligus menghidupkan manusia setelah kematiannya.
Dan sebagaimana penciptaan manusia, kebangkitannya juga tidaklah merupakan hal yang kebetulan saja. Pada hari kebangkitan manusia akan diadili dan kemudian ditentukan balasan amalannya ketika berada di dunia. Hari itu tak satu pun makhluk-Nya yang sanggup merahasiakan sekecil apapun dari-Nya. Hari itu semua rahasia terbongkar. Baik yang bersifat bagus ataupun rahasia-rahasia dan konspirasi kejahatan dan keburukan.
Tanda Kekuasaan Allah
            “Demi langit yang mengandung hujan. Dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan” (QS. 86: 11-12)
            Kemudian Allah kembali bersumpah dengan langit. Jika di awal surat ini langit dihubungkan dengan kegelapan dan bintang yang menerangi dan menghiasnya, maka pada ayat ini Allah menggandengkan langit dengan bumi. Menggandengkan langit dengan hujan serta bumi dengan tumbuh-tumbuhan.
            Dikatakan raj’i sebagai hujan karena air hujan pada dasarnya berasal dari bumi dan akan dikembalikan ke bumi ke tempat asalnya untuk mengairi tumbuhan yang bermacam-macam.
            Siapakah yang sanggup mengembalikan air ke bumi dengan bentuk yang tidak menyakit-kan bagi manusia. Air itu dijatuhkan ke bumi dan dikemballikan setelah berproses dengan bentuk tetesan-tetesan air yang kecil yang datang dalam jumlah yang berbeda sesuai kadarnya. Ada kalanya sedikit dan hanya menjadi gerimis ada kalanya banyak dan deras menjelma menjadi air yang melimpah.
            Hasan al-Bashry mengatakan bahwa hujan di sebut raj’i karena kembali dari langit dengan membawa rizki, padahal tadinya berasal dari bumi berupa air saja. Adapun Ibnu Zaid menafsirkan raj’i dengan bulan, matahari dan bintang-bintang yang memiliki orbit tempat kembali mereka.
            Dan dari air yang sama itu kemudian ketika sampai di bumi berubah menjadi tumbuhan yang bermacam-macam. Di namakan ash-shad’u karena aslinya terbelah. Biji-bijian dan benih yang tadinya di dalam tanah kemudian muncul dengan membelah tanah di atasnya, meskipun tak semua tumbuhan berasal dari dalam tanah.
            Tanda-tanda kekuasaan Allah tersebut, langit dan bumi serta sebagian fenomena yang diungkap dalam ayat ini digunakan Allah bersumpah. Semata untuk meneguhkan hakikat al-Qur’an yang didustakan oleh orang-orang kafir saat diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.
            “Sesungguhnya al-Quran itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil. Dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau”. (QS. 86: 13-14)
Al-Qur’an tidaklah seperti yang mereka tuduhkan. Bukan gurauan atau mitos sebagaimana klaim mereka. Al-Qur’an adalah kalam suci yang diturunkan sebagai pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Di dalamnya termuat kaidah dan risalah serta ajaran yang mengajak kepada kebenaran serta konsekuensinya. Juga memuat rambu-rambu dan batas-batas yang menyelamatkan manusia dari kerugian abadi dan kesengsaraan.
Namun, sayang orang-orang kadir tersebut “… merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya” (QS. 86: 15). Tidak tahukah mereka bahwa Allah pun “… membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya” (QS. 86: 16).
Dan makar serta rencana yang disiapkan Allah tentu jauh lebih sempurna. Baik untuk membalas kesabaran dan keteguhan kaum beriman ataupun untuk membalas kezhaliman orang-orang kafir tersebut, termasuk menghalangi kemudharatan dan menahan kemanfaatan bagi suatu kaum.
Maka, kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi Muhammad Saw untuk bersabar. “Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar” (QS. 86: 17). Janganlah kau sibukkan diri dengan membalas dendam kelakuan mereka atau memikirkan terlalu dalam ejekan dan hinaan mereka. Tangguhkan sebentar. Biarlah Allah yang mengurusi mereka. Allah yang serba maha lebih tahu bagaimana memperlakukan mereka, baik di dunia maupun menyediakan tempat yang sangat menyeramkan untuk mereka di akhirat, kelak.
Kata ruwaida (sebentar) mengindikasikan bahwa seberapa lama seseorang hidup di dunia tidaklah memakan waktu yang lama karena kehidupan dunia tidaklah bisa dibandingkan dengan masa yang sangat panjang dengan kehidupan di akhirat yang hanya diketahui oleh Allah saja. Asal kata ruwaidan, diambil dari angin yang bertiup dengan tiupan yang lemah.