...semoga semua pihak yang terlibat dengan tulisan ini medampat pahala dari Allah, penulis maupun yg membaca Nya...Insya Allah...amin....

Rabu, 06 Juli 2011

Surat Yunus (Tanpa keyakinan kepada hari akhir, rasa takut terhadap balasan di Hari Kiamat akan sirna)

Surat Yunus adalah surat kesepuluh dalam urutan surat-surat al-Quran. Surat ini terdiri dari 109 ayat yang seluruhnya diturunkan di Mekah. Surat Yunus sama seperti surat-surat Makiyah lainnya yang umumnya membahas tentang masalah-masalah aqidah diantaranya masalah ketuhanan dan hari akhir. Masalah pertama yang dijelaskan dalam surat ini adalah menyangkut wahyu dan kedudukan nabi, kemudian tanda-tanda keagungan penciptaan yang menunjukkan kekuasaan Allah swt.

Ketika manusia berada dalam ketidakstabilan kehidupan dunia, al-Quran mengajaknya memperhatikan kehidupan akhirat dan mempersiapkannya melalui keimanan dan amal soleh. Berkaitan dengan masalah ini, surat Yunus menceritakan kisah kaum beberapa nabi diantaranya Nabi Nuh dan Nabi Musa as, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat ke-7 hingga 10.

Artinya:Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan.

Doa mereka di dalamnya ialah: "Subhanakallahumma ", dan salam penghormatan mereka ialah: "Salam ". Dan penutup doa mereka ialah: "Alhamdulillaahi Rabbilaalamin."

Pada ayat ketujuh dan delapan dijelaskan bahwa akibat langsung dari ketiadaan iman kepada hari akhir adalah keterikatan kepada kehidupan dunia yang fana. Selain itu, ketiadaan iman kepada hari akhir juga berakibat pada buruknya perilaku orang dalam kehidupan, dan akhirnya orang yang tak beriman akan dijebloskan ke neraka di Hari Kiamat kelak. Kelalaian terhadap ayat-ayat ilahi menjadi sumber keterasingan manusia dari Tuhannya. Orang yang seperti ini akan menjadi orang yang tidak bertanggungjawab dan hidup dalam gelimang dosa, kezaliman dan fasad.

Tanpa keyakinan kepada hari akhir, rasa takut terhadap balasan di Hari Kiamat akan sirna.

Ayat sembilan dan sepuluh surat Yunus menceritakan kondisi sebuah kelompok yang kehidupannya diterangi cahaya Allah swt. Kehidupan mereka dipenuhi kedamaian dan kecintaan kepada Allah swt. Ketika bertemu dengan sesama, mereka selalu mengatakan tentang kedamaian dan kesucian. Mereka senantiasa bersyukur, ketika mendapat karunia Allah.

Beberapa ayat dalam surat Yunus juga membicarakan tentang penentangan para penyembah berhala dan menjelaskan bahwa Allah swt ada disisi mereka di manapun mereka berada. Ayat tersebut memberitakan tentang karunia ilahi yang tidak terbatas bagi orang-orang yang saleh dan ancaman terhadap orang-orang yang congkak dan sombong.

Lebih dari 20 ayat dari surat Yunus menceritakan tentang kaum Nabi Nuh as dan Nabi Musa as. Di ayat 98, al-Quran menjelaskan tentang kaum Nabi Yunus, "Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu."

Kelebihan kaum nabi Yunus dibandingkan kaum lainnya, karena mereka beriman secara kolektif. Mereka beriman sebelum Allah swt menurunkan azab-Nya. Padahal di antara kaum lainnya terdapat kelompok yang sangat keras menentang Allah sampai azab ilahi turun menimpa mereka. Tampaknya, inilah yang menjadi alasan pemilihan nama Yunus bagi surat ini.

Pada ayat terakhir surat Yunus di satu sisi menyangkut masyarakat dan di sisi lain sosok nabi. Dalam ayat ini Allah berfiman, "Katakanlah:" Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al Qur'an) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu untuk kecelakaan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu ". Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar